Selasa, 20 November 2012

Resensi Novel "Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"



Tere Liye penulis novel best seller yang mempunyai nama asli Darwis adalah seorang penulis novel berbahasa Indonesia. Lahir pada tanggal 21 Mei 1979 di pedalaman Sumatera, yang berasal dari keluarga petani, dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Beliau telah menghasilkan 14 buah novel, termasuk novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini. Riwayat pendidikan beliau cukup singkat, dimulai dari SDN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan, SMPN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan, SMAN 9 Bandar Lampung, dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
“Bekerja keras namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih,” begitu pesan beliau tentang sebuah hidup yang sederhana. Seperti novel ini ditulis dengan sederhana, namun bisa menjadi karya yang luar biasa.
Cerita ini berawal dari seorang gadis kecil bernama Tania yang berumur 10 tahun tertusuk paku payung saat sedang mengamen bersama Dede adiknya yang berusia 6 tahun. Mereka bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi malaikat bagi keluara Tania, memberikan kasih sayang, perhatian, dan janji masa depan yang lebih baik. Untuk pertama kalinya Tania merasa cemburu pada Tante Ratna, pacar seseorang yang menjadi malaikatnya. Ternyata Tania telah jatuh cinta  kepada seseorang itu yang bernama  Oom Danar. Perasaan itu terus tumbuh. Ketika Tania  tinggal seminggu lagi untuk mencapai angka 13 tahun, Dede 8 tahun, dan seseorang itu 27 tahun, ibunya meninggal. Setelah itu Tania bersekolah di Singapura selama 6 tahun karena beasiswa yang diraihnya. Kado liontin yang diberikan seseorang itu kepada Tania menjadi awal sebuah teka-teki yang membuat Tania semakin jatuh cinta meskipun dia tidak berani mengungkapkanya. Namun, tiba-tiba perasaan itu bagai beribu-ribu anak panah yang menghujam hati Tania. Pedih dan menyakitkan. Ketika dia baru lulus dengan predikat terbaik, malaikatnya itu memutuskan untuk menikah dengan Tante Ratna. Daun yang jauh tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari pohonnya. Saat potongan teka-teki itu terungkap di bawah pohon linden, semua itu telah terlambat. Akhirnya, hanya ada hati yang terluka karena cintanya yang tak pernah mampu mengungkap kejujuran.
Novel ini cukup membuka mata kita bahwa cinta tak pernah mengenal usia dan cinta butuh suatu kejujuran sekalipun pahit rasanya harus kita katakan  sebelum akhirnya cinta itu  justru menyakiti orang-orang yang kita sayangi. Novel ini dibuat seperti teka-teki pada alur cerita dan pada nama tokohnya, sehingga membuat pembacanya penasaran untuk terus membaca novel ini sampai selesai. Meskipun begitu, alur campuran yang digunakan kadang cukup membuat pembacanya menjadi cukup kesulitan. Bagian akhir cerita yang tidak digambarkan secara jelas juga membuat pembacanya menafsirkan ending yang berbeda-beda sesuai kemauannya.
Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel ini meski terkesan berlebihan namun cukup menarik. Contohnya pada kalimat ”Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu, tumbuh satu langsung kau pangkas, bersemi satu langsung kau injak, menyeruak satu langsung kau cabut”.
Karya Tere Liye ini memberikan pemahaman kepada kita khususnya remaja saat ini, bahwa cinta itu tak pernah mengenal usia dan butuh  sebuah kejujuran. Kita tidak boleh membenci orang yang telah membuat kita jatuh cinta kepadanya meskipun kita telah tersakiti karena Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Judul Buku:  Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang:  Tere Liye
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Terbit:  Juni, 2010
Tebal Buku:  264 Halaman


by : http://galerisiswa.wordpress.com/tag/daun-yang-jatuh-tak-pernah-membenci-angin/

0 komentar:

Poskan Komentar

newer post older post Home